SUARATIMUR.COM

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 24 April 2017

Topeng yang Terluka


Tergeletak di sudut gudang dengan wajah berdebu dan dipenuhi goresan, juga cat yang mulai terkelupas, membuat senyum yang dulu menawan menjadi agak menakutkan. Tak ada lagi yang peduli padanya. Ia merasa begitu tersisih, topeng itu, ia merasa sangat tidak berguna. Dalam kesendirian angannya terbang ke masa lalu, ke masa jaya yang pernah dialaminya. Terbayang sosok Diman, lelaki yang menjadi tuhannya, yang telah menciptakannya dengan penuh suka cita. Juga Surti, gadis centil lincah yang senantiasa bersamanya saat menari di atas panggung. “Topeng yang cantik, Ayah!” suatu siang, sepulang sekolah Surti kecil pernah berseru, takjub, menyaksikan ayahnya yang tengah asyik menggosok permukaan wajahnya di teras depan rumah. Diman yang penyabar mengulum senyum. Membiarkan putrinya yang berusia tujuh tahun itu mencium pipinya berulang-ulang. “Kapan Surti boleh mencoba topeng cantik ini, Ayah?” tangan mungil Surti menyentuh wajahnya yang setengah jadi. “Kamu sudah bisa memakai genduk ini pada pagelaran seni di sekolahmu, bulan depan.” Diman menyentuhkan topeng ke arah pipi Surti yang bulat. Mata Surti berbinar. Kemudian dengan kemayu bocah centil itu berlari menghilang, masuk ke dalam rumah. Diman memandangi punggung putrinya dengan senyum masih mengembang. Dada lelaki itu membuncah menahan perasaannya, antara bangga dan haru. Anak semata wayangnya itu, begitu lincah dan menggemaskan. Mengingatkannya pada mendiang istrinya, Marni, yang telah mendahuluinya berpulang beberapa tahun silam. Andai Marni masih hidup, ia tentu ikut senang melihat perkembangan Surti. Gadis kecilnya itu telah mewarisi bakat menari darinya. Ia, sebagai ayah sekaligus pelatih, tidak setengah-setengah membimbing Surti. Diajarinya Surti tehnik-tehnik menari yang baik. Cara berdiri yang sigeg, nyeblak sampur dengan manis, juga bagaimana menjaga kelenturan tubuh agar terlihat gemulai saat berada di atas panggung. Diman boleh berbangga hati. Usahanya membuahkan hasil. Kian hari Surti kian piawai membawakan tarian yang diajarkannya. Diman menaruh harapan besar pada bocah kecil kesayangannya itu. Ia mengggadang-gadang, kelak Surtilah yang bakal meneruskan impiannya, melestarikan dan mengangkat seni tari Topeng Malangan yang belakangan ini semakin tersisih. Waktu terus beranjak. Surti tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik dan menawan. Ia semakin eksis di dunia yang membesarkannya. Bersama topeng kesayangan buah karya ayahnya sendiri, Surti telah menghabiskan sebagian waktunya di atas panggung. Sampai suatu waktu Surti bertemu dengan Pramono, pria berumur yang mengaku sebagai pengusaha di bidang properti asal Jakarta. Dan pria itu berhasil mencuri hati Surti yang lugu. Surti tidak menolak ketika Pramono memintanya untuk menemani berkeliling dari satu kota ke kota lainnya. Bahkan ketika Pramono memintanya untuk berhenti menjadi penari panggung pun, Surti dengan senang hati melakukannya. Cinta memang selalu begitu. Selalu seperti itu. Mampu memperbudak perasaan tuannya. “Jangan grusa-grusu meninggalkan dunia tari yang sudah kamu rintis dengan susah payah, Nduk.” Diman mencoba mengingatkan. Tapi Surti tidak menggubris ucapan ayahnya. Ia seolah telah kehilangan telinga. Tentu saja Diman merasa sedih. Sama sedihnya dengan Topeng Malangan yang meringkuk sendirian di pojok gudang. Pintu berderit. Seseorang menguak pintu gudang. Topeng Malangan yang tengah melamun nyaris menjerit karena girang. Diman! “Kukira aku akan kehilangan dirimu,” tangan kurus Diman terulur. Menyentuh wajah topeng yang tak terurus itu. “Oh, hidungmu terluka, aku harus menambalmu, huft...” ditiupnya debu yang melekat. Lalu dibawanya topeng itu keluar gudang menuju ruang tamu. Sementara di luar gerimis semakin rapat, menari-nari dan menghentak-hentak. Diman duduk bersila di atas bangku panjang. Tangannya sibuk mengusap wajah topeng yang kusam. Sesekali lelaki itu menaikkan cuping hidungnya, lalu bersin-bersin. Sejenak ia dikagetkan oleh kedatangan Surti. Gadisnya itu berlari-lari kecil menghampirinya. “Ayah, Mas Pramono baru saja meminangku. Kami akan segera menikah!” Surti berseru dengan wajah penuh binar. Diciumnya pipi lelaki tua itu sembari menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya. “Apakah sudah kamu pikirkan baik-baik keputusanmu itu, Nduk?” Diman bertanya tanpa mengalihkan pandang dari Topeng Malangan di tangannya. “Mengapa Ayah bertanya begitu?” Surti menatap Ayahnya kecewa. “Karena Ayah menyayangimu. Pramono itu tidak seperti yang kau kira. Ia bukan pria bujangan. Apakah kamu siap menanggung resikonya?” Diman berdiri. Meletakkan topeng di atas meja. Lalu berjalan mendekati jendela yang berderak-derak tertiup angin. “Mas Pramono masih bujangan, Ayah!” Surti memberengut. Bibirnya yang mungil mengerucut. Diman tertawa. Ia menghampiri putrinya dan mengelus perlahan pundak gadisnya itu. “Ayah tidak berkata bohong, Nduk. Banyak informasi miring masuk ke telinga ayah mengenai siapa sebenarnya Pramono.” “Kenapa Ayah lebih mempercayai omongan orang?” Surti terlihat marah. Ia tidak terima ada orang yang menjelek-jelekkan pria pujaannya. Hatinya tersulut. Dan tangannya tanpa sadar meraih topeng yang tergeletak di atas meja. Lalu sekuat tenaga ia melempar topeng itu ke luar jendela. “Astaga, Surti! Apa yang telah kamu lakukan?” Diman spontan berlari ke luar rumah. Didapatinya topeng yang jatuh tergeletak di atas rerumputan. Direngkuhnya benda yang terbuat dari kayu mahoni itu dengan hati-hati. Tangan kurusnya gemetar. Bersamaan itu terdengar deru mobil memasuki halaman. Surti tersentak. Itu mobil Pramono! Segera Surti meraih tas yang tersampir pada lengan kursi. Setengah berlari ia ke luar rumah, bermaksud menyongsong kekasihnya yang baru saja tiba. Tapi mendadak langkahnya terhenti. Ia termangu. Menatap sosok yang turun dari mobil. Bukan Pramono. Melainkan seorang perempuan, cantik, berpayung, menatapnya sinis. “Jadi ini gadis bodoh itu? Bagaimana, Mas Pram?  Siapa yang kau pilih di antara kami? Aku, istrimu, atau gadis yang kau jadikan pacar gelapmu ini?” perempuan itu menoleh ke arah Pramono yang duduk di belakang kemudi. Pramono tidak bersuara, hanya diam tertunduk. “Kau lihat, bukan? Pria pujaanmu ini tidak bisa berbuat apa-apa terhadapmu. Jadi semua kuanggap selesai,” perempuan itu menatap Surti tajam. Lalu berbalik. Ia masuk kembali ke dalam mobil, menutup pintunya keras-keras. “Kita pulang!” serunya lantang. Mobil menderu meninggalkan halaman. Surti masih berdiri termangu. Menatap jejak mobil yang tertinggal. Sementara hujan semakin menggila. Tangan kurus Diman menyentuh pundak Surti. Lelaki itu tampak murung. Ia paham betul, bagaimana perasaan putrinya saat ini. “Tukar bajumu, Nduk. Nanti kamu sakit,” Diman berkata pelan. “Ayah, berikan Topeng Malangan itu. Surti ingin menari,” Surti berkata gemetar. Wajah cantiknya menegang. Diman terhenyak melihatnya, ia menangkap sekelebat sorot mata anak gadisnya itu, sorot mata nanar. Laki-laki tua itu mengulurkan tangan. Menyentuh punggung putrinya sekali lagi. Lalu dengan penuh kasih ia membantu memasangkan Topeng Malangan pada wajah Surti dengan hati-hati. *** Aroma melati merebak. Gamelan mengalun rampak. Hujan kian meluruh. Diman duduk terpekur melantunkan tembang Megatruh. Kabeh iku mung manungsa kang pinunjul Merga duwe lahir batin     jroning urip iku mau Isi ati klawan budi iku pirantine ewong *Terjemahan Semua hanya manusia yang memiliki kelebihan Karena memiliki lahir batin dalam kehidupan ini Isi hati dan akal budi itulah yang diperlukan Sementara di balik wajah topeng genduk yang manis, Surti menangis. Menumpahkan air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan. *** Malang, 24 April 2017 Lilik Fatimah Azzahra

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/elfat67/cerpen-topeng-yang-terluka_58fdea6ed6937348263dcc86

Media Sosial Bagaikan Candu, Baik atau Buruk?

Setiap hari, media sosial menemani sisi kehidupan masyarakat dunia. Banyak dari mereka yang tidak bisa lepas dari gengaman media sosial. Hal itu dikarenakan mudahnya berkomunikasi, berekspresi dan mencari informasi melalui media sosial. Akan tetapi, dengan kemudahaan yang dihadirkan oleh media sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pola perilaku individu, mulai dari yang baik hingga buruk. Semua itu tergantung kepada individu yang menggunakannya. Pada zaman ini, inovasi dan kreativitas berkembang dengan pesat sehingga dapat melahirkan teknologi-teknologi baru dan modern. Media sosial merupakan salah satu bentuk nyata dari kemajuan teknologi saat ini. Kini, dengan hadirnya media sosial membuat masyarakat menjadi lebih mudah dalam menerima informasi dengan cepat. Pada umumnya kebutuhan manusia tidak ada batasnnya. Setiap manusia pasti memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, mulai dari kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier. Hadirnya media sosial memudahkan manusia dalam melengkapi berbagai kebutuhannya. Dalam memenuhi kebutuhanya tersebut, mereka menggunakan media sosial sebagai alat untuk bersosialisasi dan berinteraksi secara tidak langsung kepada pengguna media sosial lainnya tanpa dibatasi ruang dan waktu. Mereka yang sering menggunakan media sosial biasanya disebut “ sosialita “ Media sosial kini telah menjadi tren masyarakat dunia. Berbagai kalangan dalam masyarakat mulai menggunakan media sosial, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Setiap aplikasi dalam media sosial seperti halnya facebook, twitter, Instagram, path, line, whatsapp dan lain sebagainya tentu mempunyai fungsi dan isi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, setiap individu biasanya memiliki lebih dari satu aplikasi dari media sosial. Mereka menggunakannya sesuai kebutuhan yang mereka inginkan. Kadang mereka menggunakan seperlunya bahkan sebaliknya. Menurut Nielsen, dalam seminggu, orang dewasa 18+ menghabiskan 25:07 jam dalam menggunakan seluruh media baik media sosial maupun media konvensional dan mereka menghabiskan 5:30 jam waktunya dengan menggunakan media sosial saja. Bila dibagi secara keseluruhan antara perempuan dengan laki-laki dalam menggunakan keseluruhan media, ternyata perempuan lebih banyak menghabiskan waktunya selama 26:41 jam di bandingkan laki-laki yang hanya 23:27 jam setiap minggunya.  Terkhusus untuk media sosial tak jauh berbeda dengan penggunaan seluruh media, perempuan lebih sering menghabiskan waktunya selama 6:33 jam dibandingkan lelaki yang hanya sekitar 4:23 jam dalam menggunakan media sosial. Dalam menelitian ini, Nieles memilih facebook dan twitter sebagi objek yang diteliti dalam menentukan peminat media sosial setiap harinya. Terhitung dalam seminggu, media sosial facebook pada hari sabtu dan minggu merupakan hari dengan pengguna terbanyak yaitu 61% sedangkan hari jum’at dan selasa berbanding terbalik, dimana hanya 12% pengguna.  Pada media sosial twitter, sebanyak 48% pengguna twitter menggunakannya pada hari minggu dan rabu sedangkan pada hari jum’at dan selasa hanya 15% pengguna twitter yang menggunakan media sosial tersebut. Selain itu, Nielsen juga meneliti tetang topik-topik yang sering dibahas pada media sosial facebook. Menurut penelitian tersebut, sebanyak 71% responden membahas tentang event olahraga, 18% membahas tentang serial tv, sisanya membahas lain-lain. Data diatas menunjukkan, bahwa pengguna media sosial lebih sering digunakan oleh kaum perempuan dibandingkan lelaki, mungkin karena mereka lebih haus akan informasi maupun eksistensi di media sosial. Kebanyakan dari mereka baik perempuan maupun laki-laki lebih memilih menggunakan media sosial dalam mencari informasi setiap harinya sehingga informasi yang mereka dapatkan adalah informasi-informasi terkini.  Mereka juga menggunakan media sosial untuk berkomunikasi, karena biayanya jauh lebih murah sehingga dapat menghemat uang saku. Selain itu, mereka menggunakan media sosial sebagai wadah untuk mengekspresikan segala hal yang mereka inginkan, mulai dari curhatan, kritikan bahkan tentang percintaan. Semua hal tersebut dapat dilakukan dan ditemukan di media sosial sehingga membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan kemudahan, kenyamanan, dan kecepatan yang diberikan oleh media sosial, justru dapat membuat ketergantungan bagi penggunanya. Seakan-akan mereka tak bisa lepas dari pengaruh media sosial yang telah melekat pada setiap individu yang menggunakannya, dimana pengaruh yang diterima oleh pengguna dapat berupa baik maupun buruk. Pengaruh baik yang bisa dirasakan oleh pengguna seperti, kecepatan dan kemudahan dalam menerima informasi yang ada, berinteraksi secara tidak langsung meski berada ditempat yang berbeda dan lain sebagainya.  Akan tetapi, kita tidak mungkin hanya merasakan baiknya saja, banyak hal-hal buruk yang dapat ditimbulkan oleh media sosial seperti, bullying, apatis atau tidak peduli terhadap lingkungan disekitarnya, lebih bersikap pasif, ketergantungan, kurang besosialisasi secara langsung dengan lingkungan sekitar dan lain sebagainya. Semua hal itu tergantung kepada pengguna yang menerimannya, tergantung bagaimana ia meposisikan dirinya dalam menggunakan media sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran bagi pengguna dalam membagi waktu untuk menggunakan media sosial agar mereka terlepas dari pengaruh buruk yang mungkin terjadi. Dilihat dari pengaruh yang ditimbulkan oleh media sosial, pengaruh buruk merupakan pengaruh yang sering terjadi terhadap masyarakat dunia. Mulai dari bullying, dimana setiap individu berusaha menjelek-jelekan atau menjatuhkan orang lain sesuka yang mereka inginkan. Bullying merupakan kasus yang sering terjadi pada media sosial. Karena keterbukaan media sosial saat ini, membuat setiap individu berani untuk berbuat sesuka yang mereka inginkan.  Mereka tidak takut untuk melakukannya karena mereka sadar bahwa mereka berada di dunia maya. Akan tetapi, kita tidak bisa melakukan hal tersebut dan berbuat sesuka hati kita, perlu adanya kesadaran dan ketegasan dari masyarakat, pemerintah bahkan diri kita sendiri dalam membatasi perbuatan atau perlakuan tertentu yang dinilai merugikan orang lain. Bullying yang terjadi di media sosial biasa disebut dengan “cyber bullying”. Banyak perilaku dari pelaku bullying yang berbanding terbalik dengan apa yang mereka alami di dunia nyata, banyak dari mereka yang sangat populer dan aktif di dunia maya tetapi, pada dunia nyata justru mereka sangat pasif. Meski tidak semua orang begitu, setidaknya kita harus menyeimbangkan antara perilaku di dunia maya dan dunia nyata yang sedang kita hadapi sekarang ini. Tidak hanya bullying, apatis merupakan salah satu bentuk pengaruh buruk yang banyak dialami oleh sosialita. Pada umumnya, manusia memiliki kegiatan yang berbeda-beda, dari banyak kegiatan yang mereka lakukan pasti akan menyita banyak waktu. Mereka lebih terfokus terhadap apa yang mereka kerjakan, dimana hal itu akan menimbulkan rasa kurang peduli terhadap lingkungan disekitar mereka.  Salah sau contoh yang sering dijumpai oleh kaum sosialita seperti, keseringan bermain media sosial, banyak dari mereka yang terpengaruh sikap apatis karena sering menggunakan media sosial dalam melengkapi kegiatan sehari-harinya, dimana hal tersebut memungkinkan kita menjadi lebih acuh terhadap lingkungan disekitar kita. Akan tetapi, tidak semua sosialita terpengaruh sikap apatis, banyak dari mereka yang justru lebih peduli terhadap lingkungan sekitar bahkan diluar lingkungan mereka.  Banyak hal-hal positif yang dapat kita lakukan didalam media sosial itu sendiri, seperti menolong pedagang yang sepi pelanggan dengan cara mempromosikan dagangannya ke media sosial, menggalang dana untuk korban bencana dan lain sebagainya. Banyak hal-hal positif yang ditimbulkan oleh media sosial, tanpa disadari kita telah memberikan pengaruh yang baik terhadap lingkungan disekitar kita, dimana pengaruh tersebut menimbulkan rasa kepedulian kita terhadap sesama. Selain itu, kebanyak dari sosialita yang kurang bersosialisasi dengan lingkungan disekitarnya sehingga membuat mereka menjadi bersifat pasif. Terlalu aktif di media sosial justru membuat mereka lupa akan peran yang harus dilakukan didalam lingkungan masyarakat, hal tersebut dikarenakan kurangnya sosialisasi dengan masyarakat sekitar. Mungkin banyak dari mereka yang tenar dan mempunyai banyak teman di dunia maya seperi halnya di facebook, twitter dan lain sebagainya. Akan tetapi, di dunia nyata mereka bukanlah siapa-siapa, banyak dari mereka yang dikucilkan, tidak mempunyai teman dan lain-lain. Hal tersebut tak bisa dipungkiri, karena hal tersebut biasa terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu, kita perlu berinteraksi secara langsung baik dengan keluarga, kerabat maupun masyarakat agar dapat diterima oleh lingkungan setempat. Setelah banyak hal buruk yang terjadi, pasti akan timbul kesadaran akan soulusi yang tepat dalam menangani permasalahan yang terjadi. Sebenarnya banyak hal-hal baik yang bermanfaat dan berguna dari media sosial untuk diri kita maupun orang lain. Seperti halnya, mengalang dana untuk membantu korban yang tertimpa bencana, membuat donasi untuk membantu orang lain yang tidak mempunyai cukup uang dalam berobat dan lain sebagainya.  Hal-hal tersebutlah yang seharusnya kita lakukan dengan memanfaatkan dan menggunakan media sosial, karena pada dasarnya inovasi diciptakan untuk memberi manfaat yang banyak bagi kehidupan mansuia dan diharapkan bisa melengkapi kebutuhan manusia yang tak ada habisnya. Perubahan bisa terjadi setiap saat, mulai dari hal kecil hingga besar, perubahan tersebut terjadi karena pemikiran manusia yang terus berkembang setiap saat, mereka berusaha untuk menciptakan inovasi-invoasi baru yang tidak ada habisnya. Zaman semakin modern, teknologi semakin maju, inovasi dan kreativitas terus berkembang dan pada akhirnya manusia hanya bisa mengikuti arus globalisasi dan modernisasi yang mereka ciptakan sendiri.  Pada dasarnya baik globalisasi maupun modernisasi merupakan sebab akibat dari kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang manusia kembangkan, dimana dengan kemajuan tersebut memberikan banyak maanfat bagi kehidupan manusia. Akan tetapi, tak semua dari mereka mampu mengikuti arus globalisasi dan modernisasi, banyak dari mereka yang tertinggal oleh arus tersebut. Biasanya hal itu dikarenakan minimnya intelektual, sarana, dan fasilitas yang menunjang manusia untuk bisa mengikuti arus itu.  Media sosial merupakan hasil dari kemajuan IPTEK saat ini. Hadirnaya media sosial diharapkan bisa memberikan pengaruh dan maanfat yang baik bagi kehidupan manusia, ini menunjukan bahwa media sosial hadir untuk melengkapi kebutuhan hidup manusia. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak dari mereka yang salah memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut.  Banyak pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh media sosial seperti yang dijelaskan diatas, hal tersebut menimbulkan pergesaran pola perilaku manusia yang dinilai dapat merugikan dirinya sendiri bahkan orang lain. Oleh karena itu, perlunya ketegasan maupun kesadaran dari masyarakat, pemerintah bahkan diri kita sendiri untuk dapat mengatur penggunan media sosial agar terhindar dari pengaruh buruk yang dapat merugikan diri kita sendiri.

 Referensi : Casey, S. (2017). 2016 NIELSEN SOCIAL MEDIA REPORT. US: Nielsen. 
(sumber: Kompasiana)